Tahukah anda Islam sedang berkembang pesat di Irian Jaya?

|

Zaaf Fadlan Ingin Papua Jadi "Serambi Madinah"
Senin, 20 Juli 2009 07:18
Oleh Muhammad Said

JIKA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di bagian paling barat bumi Indonesia dijuluki "Serambi Mekkah, maka Papua di bagian palin timur ingin mendapat julukan "Serambi Madinah".

"Karena sudah ada `Serambi Mekkah` (Aceh), maka umat Islam di Papua bercita-cita menjadikan bumi Papua menjadi `Serambi Madinah`," ujar Ustaz M Zaaf Fadlan Rabbani Al Garamatan (40).

Alasannya, karena umat muslim di Papua merupakan yang pertama kali melaksanakan Solat Subuh, pertama kali berbuka puasa dan pertama merayakan Idul Fitri.

Maka harus ada yang disebut dengan "wal awalu" (yang awal) dan "wal akhiru" (yang akhir) Indonesia yakni Papua dan Aceh, kata lelaki yang lahir dari keluarga muslim di Fak-Fak, 17 Mei 1969 itu.

Itulah cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Zaaf Fadlan bersama masyarakat Papua dan para dai-dai yang menyampaikan ajaran Islam hingga ke suku pedalaman di Pulau Cenderawasih itu.

Islam merupakan agama pertama kali yang masuk di bumi Irian pada tahun 1214 dibawakan rombongan dari kerajaan Islam pertama di Indonesia yakni Kerajaan Samudera Pasai yang berasal dari Aceh.

Pada tahap kedua Sultan Tidore juga memperkenalkan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan pada tahap ketiga oleh Sultan Demak serta pengaruh dari Wali Songo.

"Tetapi pada perjalanannya orang Indonesia yang berada di tengah dan barat Indonesia tidak mengenal kami dengan baik karena opini yang keliru," keluh Zaaf.

Untuk mewujudkan niatnya itu, Zaaf telah mendirikan yayasan yang berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia muslim yang bernama Al Fatih Kaafah Nusantara (AFKN) dan bermarkas di Papua Barat.

Sedikitnya 464 orang dai alumni dari pesantren terkemuka di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi tergabung menjadi anggota dan menyampaikan ajaran Islam ke suku pedalaman Papua dengan perahu motor.

Metode dakwah yang dilakukan dengan mengetahui permasalahan yang dihadapi masyarakat suku pedalaman penganut animisme berikut pemecahann masalah dengan mendekati kepala suku setempat.

Dari situ, mulai dikenalkan pola hidup bersih seperti mandi dengan air dan sabun kemudian keramas dengan sampo, lalu cara menutup aurat hingga bimbingan yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya.

Masyarakat asli Papua tidak pernah mengenal cara membersihkan tubuh, bahkan menghindari gigitan nyamuk dan udara dingin mereka selalu melumuri tubuh dengan minyak babi.

Sekali pun masyarakat asli itu membenci dan tidak menyukai para pendatang, namun Islam bisa diterima penganut animisme itu dengan cara yang santun memperkenalkan agama yang dibawa Nabi Muhammad itu.

"Animisme merupakan kepercayaan masyarakat di pedalaman yang tidak tersentuh transportasi dan Informasi. Ketika datang informasi agama kepada mereka dengan santun, Subhanallah..., justru mereka dengan ikhlas dan tulus menerima kami lebih baik," paparnya.

Berbagai cerita menarik didapatkan oleh para dai-dai AFKN itu seperti seorang kepala suku yang begitu senang dengan aroma harum tubuhnya dari sabun mandi, yang kemudian berlari keliling kampung tanpa membilas tubuhnya.

Mengenalkan pakaian merupakan proses awal yang susah bagi masyarakat pedalaman Papua yang selalu berkoteka, namun lama-kelamaan mereka terbiasa dan merasa senang dengan balutan pakaian yang menutupi aurat.

Kini muslimah Irian menolak kembali menampakkan aurat mereka, seperti sebelum memeluk Islam.

"Tapi kondisi sebaliknya justru terjadi di perkotaan yang lebih senang berpakaian yang menampakkan aurat dan mulai belajar bertelanjang," ujarnya.

Namun, untuk menjalankan misi dakwah di bumi Papua memang tidak mudah karena selain masyarakat pedalaman yang primitif dan jauh belum tersentuh pendidikan, juga disebabkan faktor alam yang menyulitkan jangkauan dari satu perkampungan ke perkampungan lain.

Saat ini biaya yang dikeluarkan untuk dakwah yang dilakukan secara gencar dan berkesinambungan sejak tahun 1980-an itu, harus dilakukan dengan menyewa kapal yang biaya per minggunya mencapai Rp15 juta. "Jika dilakukan selama satu bulan penuh, akan menghabiskan dana uang lebih dari Rp100 juta<" katanya.

Perhatian yang diharapkan dari pemerintah pusat melalui Departemen Agama hanya bersifat bantuan moral saja dan para dai AFKN bekerja ikhlas dengan sokongan ala kadarnya dari amanah yang dititipkan umat muslim seperti dari Badan Wakaf Al Quran.

Sedangkan dana alokasi dari pemerintah setempat pasca otonomi daerah belum tersalurkan dengan baik dan menjadi prioritas dalam melakukan pembenahan sumber daya manusia masyarakat asli Papua terutama yang berada di pedalaman.

Sehingga terkadang muncul kecemburuan dengan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selalu mendapatkan bantuan dari pemerintah, namun pemerintah juga yang menyatakan organisasi itu menjadi pengacau keamanan di Bumi Cenderawasih.

"Mereka yang mendapatkan bantuan dari pemerintah adalah orang-orang OPM, namun mereka yang malah mengancam keutuhan bangsa ini," jelasnya.

Dewasa ini, kata Zaaf, populasi muslim di Papua telah mencapai 40 persen atau menjadi umat terbesar di Papua.

Untuk mengubah opini yang selama ini menyatakan muslim minoritas di propinsi yang berbatasan dengan Papua Neugini itu, maka AFKN melakukan kampanye baik secara langsung dengan berkeliling Indonesia atau melalui media.

Papua harus dibela dan harus dipertahankan karena pulau itu dibangun dengan Islam, maka diharapkan tidak ada lagi peristiwa yang namanya peperangan dan peristiwa yang merugikan negara melainkan dengan mengibarkan bendera merah putih.

Namun impian terdekat Zaaf adalah menjadikan putra-putri muslim di bumi Papua sebagai pelayan masyarakat di birokrasi, legislatif, yudikatif dan TNI/Polri.

"Kalau suatu daerah itu diatur oleh umat Islam maka sangat luar biasa, tetapi jika belum sampai maka umat Islam harus bersabar hingga waktunya tiba,".(ant/*)

0 comments: